
Dr Rudy Wiratama S I P , M A, Cerita Panji yang berkisar pada liku-liku perjalanan roman Panji, putra mahkota Jenggala yang mengembara mencari Galuh atau Sekartaji kekasihnya, telah menginspirasi lahirnya berbagai macam bentuk kesenian di Indonesia, baik berupa tarian, nyanyian, hingga teater boneka. Salah satu yang masih bertahan adalah wayang gědhog, yang lahir sekitar abad XV Masehi dan berkembang di keraton-keraton Jawa hingga sekarang terutama Surakarta, meskipun tidak marak seperti wayang purwa yang mengambil repertoar Mahabharata dan Ramayana. Seiring dengan perjalanan waktu, wayang gědhog di Kasunanan dan Mangkunagaran terus berkembang dengan ciri khasnya masing-masing yang kini justru jarang dikenali perbedaannya. Ciri-ciri ini pada hakikatnya tidak hanya memiliki nilai lampau yang berhubungan dengan konteks zaman Jenggala dan Kediri sebagai latar belakang penulisan cerita Panji, tetapi juga terkait dengan berbagai faktor yang aktual pada zamannya sebagai nilainilai yang relevan dengan masa penyajiannya.