“Nyarira.”
Tentang laki-laki yang terlihat kuat di luar, namun diam-diam sedang mencari dirinya sendiri.
Karena tidak semua luka berdarah. Sebagian tumbuh menjadi diam, ego, amarah, dan kesepian yang tidak pernah diceritakan.
Maskulinitas sering dianggap sebagai simbol kekuatan, ketegasan, dan ketahanan. Tapi dalam kehidupan nyata, maskulinitas tidak lahir begitu saja.
Ia dibentuk oleh pengalaman empiris.
Oleh apa yang kita lihat, dengar, alami, dan rasakan sejak kecil.
Seorang anak laki-laki yang jatuh lalu mendengar:
“Jangan nangis, kamu kan laki-laki.” sedang belajar bahwa rasa sakit harus disembunyikan.
Seorang remaja yang gagal lalu diejek lemah, sedang belajar bahwa harga dirinya diukur dari keberhasilan.
Dan seorang pria dewasa yang terus menanggung tekanan hidup sendirian, sering kali percaya bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan.
Dari pengalaman-pengalaman itulah, banyak laki-laki tumbuh dengan tekanan untuk selalu terlihat kuat, bahkan ketika dirinya sedang runtuh.
Maskulinitas sejati mungkin bukan tentang siapa yang paling keras.
Tapi siapa yang mampu mengenali dirinya sendiri.
Berani bertanggung jawab.
Berani menghadapi kenyataan.
Dan berani jujur terhadap luka yang dimiliki.
Karena menjadi laki-laki bukan berarti mematikan perasaan.
Tetapi belajar mengendalikan perasaan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Delfin Febriansyah